Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Khutbah Jum'at: Menyambut Hari Anak Nasional 23 Juli

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ
الحَمْدُ لِلّٰه مُجْرِى الرِّيَاحِ وَمُسَخِّرِ السَّحَابِ غَافِرِ الذَّنْبِ لِمَنْ تَابَ
اَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالٰى وَهُوَ الْكَرِيْمُ التَّوَّابُ وَاَشْهَدُ اَنْ لَااِلٰهَ اِلَّااللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ الْوَهَّابُ
وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ النَّبِىُّ الْاَوَّابُ
اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اۤلِهٖ وَاَصْحَابِهٖ صَلَاةً وَسَلَامًا دَائِمَيْنِ مُتَلَازِمَيْنِ اِلٰى يَوْمِ الْمَاٰبِ
اَمَّابَعْدُ: فَيَا اَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا اللّٰهَ تَعَالٰى وَاسْاَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ الْمَتَابَ وَتَا جِرُوْا فِى صُوْفِ الصَّدَقَةِ وَالْبِرِّ وَالْخَيْرِ وَالثَّوَابِ

Hadirin Sidang Jum’ah Rahimakumullah

Marilah kita selalu bertaqwa kepada Allah dan kita tingkatkan terus rasa ketaqwaan itu dalam kehidupan sehari-hari dengan menjalankan semua perintahNya dan menjauhi semua larangannya. Di antara perintah Allah yang harus kita laksanakan adalah menjaga amanat. Dan amanat Allah yang paling besar adalah anak-anak kita yang harus dijaga dengan baik agar tumbuh menjadi manusia yang berguna bagi agama, nusa dan bangsa serta taat berbakti kepada orang tua.

Hadirin Sidang Jum’ah Rahimakumullah

Kalau anak merupakan amanat dari Allah yang dititipkan kepada kita, lalu bagaimanakah tanggungjawab kita kepadanya? Apakah hanya memeliharanya saja tanpa dengan upaya lain yang bisa menyebabkan anak berkembang dengan baik? Tidak, sungguh tanggungjawab kita kepada anak-anak amat berat, tetapi mulia bila bisa melaksanakannya. Sebab, sebagaimana kita ketahui bahwa anak-anak adalah bunga-bunga bangsa yang kelak pada akhirnya menjadi generasi penerus, pengganti generasi tua di dalam menegakkan negara dan agama. Oleh sebab itu, sebagai orang tua yang bertanggungjawab terhadap anak harus bisa memenuhi dan menyampaikan hak-hak anak sebagaimana mestinya.


Adapun hak-hak yang harus dipenuhi antara lain:

1. Mendidik anak dengan baik
Anak jangan dibiarkan berkembang tanpa disertai dengan pendidikan baik secara formal maupun non formal. Kita sekolahkan ke sekolah yang didalamnya diajarkan pula agama Islam. Juga di luar sekolah, anak itu harus dibimbing dan diarahnya menuju kebaikan. Sejak kecil tanamkan anka-anak bahwa Tuhan yang wajib disembah adalah Allah dan Nabi Muhammad adalah Rasul Allah yang terakhir. Beliau dilahirkan di Makkah dan dimakamkan di Madinah. Ajarkan shalat kepada anak setelah genap berusia tujuh tahun dan pukulah yang tidak menyakitkan sebagai pengajaran jika dia meninggalkan shalat selama sementara berumur genap sepuluh tahun.

Rasulullah bersabda:

لَاَنْ يُؤَدِّبَ الرَّجُلُ وَلَدَهُ خَيْرٌلَهُ مِنْ اَنْ يَتَصَدَّقَ بِصَاعٍ

Artinya:
“Orang yang mendidik anaknya itu lebih baik baginya daripada ia bersedekah satu sha’ (beras atau gandum, setiap hari)”. (HR Imam Tirmidzi)

2. Memberi pelajaran budi pekerti yang mulia
Betapa pentingnya budi pekerti yang baik itu bagi seseorang. Jika ada orang yang ingin dipercaya dan dihormati dan berwibawa, maka berbudilah yang baik dan sopan kepada siapa saja yang diajak bergaul. Untuk itu tugas orang tua kepada anaknya adalah menanamkn  budi pekerti yang mulia sejak kecil. Berikan contoh bagaimana mestinya berhadapan dengan orang tua, dengan para guru, dengan orang-orang yang lebih tua umumnya dari padanya. Dan bagaimana semestinya bergaul dengan saudara-saudaranya serta dengan teman-temannya. Jangan dibiarkan berlarut-larut anak berbuat kurang ajar. Begitulah tugas orang tua sebagai cerminan rasa kasih sayangnya kepada anak.

Rasulullah bersabda:

مَانَخَلَ وَالِدًا مِنْ نِحَلٍ اَفْضَلَ مِنْ اَدَبٍ حَسَنٍ

Artinya:
“Tidak ada pemberian orang tua kepada anak yang lebih utama daripada budi pekerti yang baik”. (HR Tirmidzi)

3. Mengajarkan kepada anak segala sesuatu yang bermanfaat
Tidaklah mungkin orang akan kuat memegang agamanya kalau dia tidak dididik masalah-masalah agama sejak kecil. Bilamana anak sejak kecil sudah diajari dan dibiasakan menjalankan kewajiban agama, sudah barang tentu ia akan teguh melaksanakan tugas kewajiban agamanya meskipun dalam keadaan terjepit sekalipun. Itulah sebabnya maka Lukman tidak henti-hentinya menasehati kepada anak-anaknya agar tetap menjalankan shalat dan amar ma’ruf nahi munkar.

Allah berfirman:

يَا بُنَىَّ اَقِمِ الصَّلٰوَةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوْفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلٰى مَا اَصَابَكَ اِنَّ ذٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْاُمُوْرِ

Artinya:
“Wahai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya hal-hal yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)”. (Luqman: 17)

Hadirin Sidang Jum’ah Rahimakumullah

Sengaja kami ketengahkan kepada hadirin mengenai hak-hak anak yang harus kita tunaikan. Karena, pada saat sekarang ini kita bangsa Indonesia sedang dalam suasana memperingati hari Anak-anak Nasional yang jatuh pada tanggal 23 Juli. Oleh sebab itu, alangkah baiknya jika dalam suasana seperti ini kita lebih meningkatkan rasa tanggungjawab kepada anak. Sebab, kalau kita demikian, apalagi jika kita melalaikan tugas kewajiban itu, biar jadi anak akan menjadi bumerang bagi kita sendiri, yang sangat menyusahkan atau menjadi beban berat bagi keluarganya. Dan yang demikian itulah kiranya yang disinggung dalam Al-Qur’an bahwa anak itu sebagai fitnah.

وَاعْلَمُوْا اَنَّمَا اَمْوَالُكُمْ وَاَوَلَادُكُمْ فِتْنَةُ وَاَنَّ اللّٰهَ عِنْدَهُ اَجْرٌعَظِيْمٌ

Artinya:
“Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allahlah pahala yang besar”.

Bila kita perhatikan ayat di atas, maka harta kekayaan dan anak itu bisa menjadi fitnah atau cobaan bagi orang tua jika memang keduanya (harta dan anak) dapat menghambat atau menghalangi kegiatan dan usaha kita beribadah kepada Allah. Anak bisa menjadi seperti itu kalau orang tuanya tidak memikirkan nasibnya, terutama di dalam masalah pendidikan. Anak itu akan merepotkan kita dan menyusahkan, jika kita sebagai orang tua tidak memberinya bekal ilmu yang diperolehnya dari pendidikan.

Hadirin Sidang Jum’ah Rahimakumullah

Sebagaimana kita ketahui, bahwa anak itu semisal kertas putih yang masih bersih. Terserah pemiliknya mau memberi corak atau warna apa terhadap kertas itu. Begitu pula anak tak ubahnya seperti kertas yang bersih dan suci. Sekarang tinggal orang tuanya mau dihadapkan anak itu. Hal ini pernah diisyaratkan oleh Rasulullah di dalam sabdanya:

مَامِنْ مَوْلُوْدٍ اِلَّا يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَاَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِىٖ اَوْيُنَصِّرَا نِهٖ اَوْيُمَجِّسَانِهٖ

Artinya:
“Tidak ada seorang anakpun yang dilahirkan kecuali dia lahir dalam keadaan aslinya (yaitu menetapi fitrah Islam). Maka kedua orang tuanyalah yang menjadikan Yahudi atau Nasrani atau Majusi”. (Al-Hadits)

Hadirin Sidang Jum’ah Rahimakumullah

Kasih sayang atau menyayangi anak adalah sifat atau naluri orang tua yang dimiliki oleh setiap ibu dan bapak. Tetapi kasih sayang yang hakiki adalah mengasuh dan membimbing anak hingga menjadi orang pandai, memiliki ilmu pengetahuan yang luas baik dalam masalah agama maupun masalah umum. Bukanlah mengasihi dan menyayangi anak itu berarti harus memanjakannya. Justru memanjakan anak adalah langkah yang keliru karena bisa mengakibatkan anak menjadi bodoh, tidak dapat melaksanakan tugas hidupnya dengan baik.

Rasulullah bersabda:

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيْرَنَا وَيُوَقِّرْ كَبِيْرَنَا وَيَأْمُرْ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ

Artinya:
“Bukanlah termasuk golongan dari kami orang yang tidak menyayangi anak kecil dan tidak menghormati orang tua, serta tidak memerintahkan yang ma’ruf dan mencegah kemungkaran”. (HR Ahmad dan Tirmidzi dari Ibnu Abbas)

Juga Allah berfirman:

وَلْيَخْشَ الَّذِيْنَ لَوْتَرَكُوْا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوْا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوْا اللّٰهَ وَلْيَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًا

Artinya:
“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertaqwa mereka kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar”. (An-Nisa: 9)

اَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ
الْمَالُ وَالْبَنُوْنَ زِيْنَةُ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌعِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌاَمَلًا وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَاَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ