Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Khutbah Jum'at: Menyambut Bulan Haji

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَ كَاتُهُ
الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِى افْتَرَضَ عَلَى الْقَادِرِيْنَ زِيَارَةَ بَيْتِهِ الْحَرَامِ
وَجَعَلَ حَجَّهُ احْدٰى اَرْكَانِ الْاِسْلَامِ
وَغَفَرَ لِمَنْ حَجَّهُ وَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ جَمِيْعَ الذُّنُوْبِ وَالْاۤثَامِ
اَشْهَدُ اَنْ لَااِلٰهَ اِلَّااللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْعَلَّامُ
الْمُتَفَرِّدُ بِالْبَقَاءِ وَالدَّوَامِ
شَهَادَةً مُبَرَّاَةً مِنَ الشِّرْكِ وَالشُّكُوْكِ وَالْاَوْهَامِ
وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدِنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اَفْضَلُ مُرْسَلٍ وَاَكْمَلُ اِمَامٍ
اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِهٖ وَاَصْحَابِهِ الْبَرَرَةِ الْكِرَامِ وَالْاَئِمَّةِ الْاَعْلَامِ
اَمَّابَعْدُ: فَيَا اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوْا اللهَ تَعَالٰى وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهَ تَعَالٰى بَنٰى دِيْنَ الْاِسْلَامِ عَلَى خَمْسَةِ اَرْكَانٍ مِنْهَاحِجُّ الْبَيْتِ فَمَنْ اَتٰى بِهِنَّ كَامِلَاتٍ فَقَدِ اسْتَكْمَلَ الْاِيْمَانُ وَمَنِ انْتَقَصَ وَاحِدَةً مِنْهُنَّ فَبِحَقِّ رَبِّهِ اسْتَهَانَ
قَالَ النَّبِىُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ لَمْ تَحْبِسْهُ حَاجَةٌ ظَاهِرَةٌ اَوْمَرَضٌ حَابِسٌ اَوْسُلْطَانٌ جَائِرٌ وَلَمْ يَحُجَّ فَلْيَمُتْ اِنْ شَاۤءَ يَهُوْدِيًّا وَاِنْ شَاۤءَ نَصْرَانِيًّا وَقَالَ تَعَالٰى: اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ
وَلِلّٰهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ اِلَيْهِ سَبِيْلًا

Saudara-saudara kaum Muslimin sidang Jum’at yang kami muliakan!

Marilah kita bertaqwa kepada Allah dengan taqwa yang sungguh-sungguh. Kita laksanakan segala perintahNya dan kita jauhi semua laranganNya.
Sebagaimana kita ketahui bahwasanya Allah mendirikan agama Islam ini atas lima sendi, yang disebut Rukun Islam, yaitu:
  1. Membaca dua kalimat syahadat, yaitu syahadat tauhid dan syahadat Rasul. Di mana di dalamnya mengandung suatu pengakuan secara tulus dan ikhlas, meresap di dalam hati sanubari bahwa tidak ada Tuhan yang wajib disembah melainkan Allah dan sesungguhnya Nabi Muhammad SAW. adalah Rasul Allah
  2. Mendirikan sholat lima waktu
  3. Mengeluarkan zakat bagi mereka yang sudah berkewajiban mengeluarkannya
  4. Puasa pada bulan Ramadhan
  5. Menunaikan ibadah Haji bagi mereka yang sudah mampu
Barangsiapa dapat melaksanakan kelima sendi itu, maka sempurnalah imannya. Dan barangsiapa mengurangi dengan sengaja salah satu dari kelima sendi itu, maka ia telah meremehkan hak Allah.

Khutbah Jum'at

Saudara-saudara kaum Muslimin sidang Jum’at yang kami muliakan!

Sekarang ini kita berada di dalam bulan Haji. Bulan Zulhijjah ini termasuk bulan yang suci karena di dalam bulan inilah umat Islam sedunia yang mampu menunaikan Ibadah Haji berkumpul di kota suci Mekah. Mereka berkumpul agar saling kenal dalam suasana persaudaraan Islam. Tidak ada perbedaan di antara mereka, semuanya duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi, baik ia itu orang kaya atau miskin, pejabat tinggi atau pegawai biasa. Bahkan presiden atau raja sekalipun mereka tetap sama, dalam kedudukan yang sama.

Dalam suasana seperti inilah kita akan dapat merasakan betapa benarnya agama Islam. Suatu agama yang mengajarkan persamaan hak antara sesama manusia, yang telah disampaikan oleh Rasulullah SAW. demikianlah di antara pentingnya ibadah haji disyariatkan di dalam Islam, sehingga umat Islam yang merasa kaya jangan sampai membanggakan kekayaannya, yang kebetulan menduduki jabatan penting jangan sampai membanggakan kedudukannya. Semua itu bagi Allah tidak ada harganya sama sekali, karena Allah Maha Kaya dan Maha Tinggi. Hanya orang-orang yang paling bertakwalah yang paling mulia di sisi Allah. Allah berfirman:

اِنَّ اَكْرَ مَكُمْ عِنْدَ اللهِ اَتْقَاكُمْ اِنَّ اللهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ

Artinya:
“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sini Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”. (Al-Hujurat: 13)

Saudara-saudara kaum Muslimin sidang Jum’at yang kami muliakan!

Dalam kesempatan yang baik ini marilah kita mengoreksi diri sendiri, apakah kita ini sudah berkewajiban menunaikan ibadah haji ataukah belum. Bila ternyata diri kita sudah termasuk orang yang berkewajiban menjalankan ibadah haji, maka kewajiban ini jangan sampai ditunda-tunda, apalagi sampai diingkari. Sebab, sebagaimana sudah disinggung di atas bahwa ibadah haji adalah rukun Islam yang kelima yang harus dilaksanakan bagi yang telah mampu. Adapun ukuran mampu itu meliputi tiga unsur, yaitu:
  1. Cukup biaya, baik biaya untuk perjalanan haji atau biaya bagi keluarga yagn ditinggalkan
  2. Berbadan sehat, dalam arti fisiknya kuat untuk mengerjakan ibadah haji
  3. Aman dalam perjalanan dan di dalam mengerjakan ibadah haji
Jika ketiga syarat ini telah terpenuhi, maka ibadah haji itu wajib dilaksanakan, jangan sampai ditunda-tunda. Allah berfirman:

وَللهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ اِلَيْهِ سَبِيْلًا

Artinya:
“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah, Barangsiapa mengingkari kewajiban haji, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam”. (Ali Imran: 97)

Rasulullah SAW. juga bersabda:

مَنْ لَمْ تَحْبِسْهُ حَاجَةٌ ظَاهِرَةٌ اَوْمَرَضٌ حَابِسٌ اَوْسُلْطَانٌ جَائِرٌ وَلَمْ تَحُجَّ فَلْيَمُتْ اِنْ شَاءَ يَهُوْدِيًّا وَاِنْ شَاءَ نَصْرَانِيًّا

Artinya:
“Barangsiapa tidak menghambat atasnya hajat yang nyata, atau sakit yang merintangi atau penguasa yang jahat sedang ia tidak berangkat menunaikan ibadah haji, maka hendaklah ia mati jika menghendaki menjadi Yahuda atau Nasrani”. (HR Baihaqi)

Saudara-saudara kaum Muslimin sidang Jum’at yang kami muliakan!

Berdasarkan ayat dan hadits hadits tadi, maka ibadah haji merupakan kewajiban yang tak boleh ditawar-tawar bagi setiap orang Islam yang sudah mampu melaksanakannya. Sehingga pada saat ini bilamana di antara kita ada yang sudah merasa berkewajiban menunaikan ibadah haji, tetapi karena sesuatu hal terpaksa diurung-urungkan karena ragu-ragu atau merasa khawatir kekayaannya menjadi berkurang, maka niatkan kembali sejak kini untuk berangkat haji tahun depan. Hilangkan keragu-raguan itu, justru dengan menunaikan ibadah haji itu, Allah akan menghilangkan kefakiran atau kemiskinan dan juga menghapuskan segala dosa. Rasulullah SAW. bersabda:

تَابِعُوْا بَيْنَ الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ فَاِنَّهُمَا يَنْفِيَانِ الْفَقْرَ وَالذُّنُوْبَ كَمَا يَنْفِى الْكِيْرُ خَبَثَ الْحَدِيْدِ وَالذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَلَيْسَ لِلْحَجَّةِ الْمَبْرُوْرَةِ ثَوَابٌ اِلَّا الْجَنَّةَ

Artinya:
“Sertakanlah ibadah haji dan umrah. Karena sesungguhnya keduanya dapat menghilangkan kefakiran dan semua dosa sebagaimana penghembus api pandai besi dapat menyirnakan kotoran besi, emas dan perak. Dan tidak ada pahala bagi haji yang mambrur kecuali surga”. (HR Tirmidzi dan Ibnu Huzaimah dan Ibnu Hibban)

Maka demi melihat hadits ini, kalau ada orang yang merasa khawatir akan jatuh miskin setelah pulang dari haji, sebaiknya hilangkan jauh-jauh kekhawatiran ini. Justru Allah akan menambah kekayaannya menjadi berlimpah ruah. Percayalah kepada janji Allah melalui sabda Rasulullah SAW. itu

Saudara-saudara kaum Muslimin sidang Jum’at yang kami muliakan!

Di dalam hadits lain diterangkan bahwa ibadah haji itu merupakan jihadnya orang-orang yang sudah berumur lanjut, orang yang lemah, dan perempuan. Artinya, kalau orang-orang yang sudah tua, orang-orang yang lemah dan para wanita, di mana keadaan seperti itu sudah tidak memungkinkan untuk berjihad menegakkan agama Islam melalui peperangan melawan orang kafir, maka sebagai gantinya di mana pahalanya sama dengan menunaikan ibadah haji adalah menjalankan ibadah haji. Rasulullah SAW. bersabda:

جِهَادُ الْكَبِيْرِ وَالضَّعِيْفِ وَالْمَرْاَةِ الْحَجُّ

Artinya:
“Jihadnya orang tua, orang lemah dan wanita adalah ibadah haji”. (HR Imam Nasa’I dari Abu Hurairah)

Saudara-saudara kaum Muslimin sidang Jum’at yang kami muliakan!

Kewajiban menjalankan ibadah haji bagi orang Islam itu hanya satu kali saja dalam seumur hidup, kecuali jika ada nazar. Setelah kewajiban itu dilaksanakan maka ibadah haji selanjutnya adalah sunnah. Oleh sebab itu, jika kita selama ini sudah merasa berkewajiban menjalankan ibadah haji, laksanakanlah segera. Sebab, bila selalu ditunda-tunda kemudian jatuh miskin atau kedatangan ajal, maka kewajiban itu tetap menjadi tanggungannya yang harus ditunaikan. Inilah bahayanya orang yang selalu menunda-nunda kewajiban, dia merugi dan menanggung dosa.

Akhirnya, marilah kita berdo’a semoga Allah memberi kekuatan dan kemampuan kepada kita semua untuk dapat melaksanakan ibadah haji dan mendapat haji yang mabrur. Aamiin Allahumma Aamiin.

اَعُوْدُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ: اَنَّ اَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِىْ بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِلْعَالَمِيْنَ
فِيْهِ اٰيَاتٌ بَيِّنَاتٌ مَقَامُ اِبْرَاهِيْمَ وَمَنْ دَخَلَهٗ كَانَ اٰمِنًا وَاللهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ اِلَيْهِ سَبِيْلًا وَمَنْ كَفَرَ فَاِنَّ اللهَ غَنِىٌّ عَنِ الْعَالَمِيْنَ بَارَكَ اللهُ لِىْ وَلَكُمْ فِى الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِىْ وَاِيَاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنَ الْاٰيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ
وَتَقَبَّلَ مِنِّى وَمِنْكُمْ تِلَا وَتَهٗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعِ الْعَلِيْمُ