Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Khutbah Idul Adha: Peristiwa Nabi Ibrahim dan Pelajaran yang Luhur

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَ كَا تُه
اللهُ اَكْبَرْ٣×  اَللهُ اَكْبَرْ٣×  اَللهُ اَكْبَرْ٣× اَللهُ اَكْبَرْ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَصُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَاَصِيْلًا اْلحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِى جَعَلَ هٰذَا الْيَوْمَ مِنْ اَعْظَمِ الْاَيَّامِ اَحْمَدُهٗ حَمْدًا يَفُوْقُ حَمْدَ الْحَامِدِيْنْ وَاَسْتَعِيْنُهٗ اِنَّهٗ خَيْرُ الْمُعِيْنْ وَاَتَوَ كُّلُ عَلَيْهِ اِنَّهُ ثِقَّةُ الْمُتَوَكِّلِيْنْ اَشْهَدُ اَنْ لَا ِالٰهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِ يْكَ لَهُ غَيْرُ مُسْتَكْبِرٍ مَعَ الْمُسْتَكْبِرِيْنْ وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ خَاتَمُ النَّبِيِّيْنَ اَرْسَلَهٗ رَحْمَةً لِلْمُؤْ مِنِيْنْ وَحُجَّةً لِلْجَا حِدِيْنْ اللّٰهُمَّ صَلِّ عِلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ فِى الْاَوَّلِيْنَ وَالْاٰخِرِيْنَ وَعَلٰى اۤلِهِ الطَّيِّبِيْنَ الطَّا هِرِيْنْ وَسَلَّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا
اَمَّا بَعْدُ: اَيُّهَا النَّاسُ اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِىْ بِتَقْوَى الله اِعْلَمُوْا اَنَّ هٰذَا الْيَوْمْ يَوْمٌ عَظِيْمٌ شَرَّفَهُ اللهُ وَعَظَّمَهُ وَسَمَّاهُ يَوْمَ الْحَجِّ الْاَكْبَرِ فَعَظَّمُوْا مَاعَظَّمَ اللهُ مِنْ حُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هٰذَا بِالْاِيْثَارِ لِطَاعَتِهٖ وَالتَّرَ وُّعِ عَنْ مُسَاخَتِهِ وَمُخَالَفَتِهِ قَالَ اللهُ تَعَالٰى: وَمَنْ يُعَظِّمْ سَعَائِرَ اللهِ فَاِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوْبِ

Maha Besar Allah yang telah mentakdirkan kita sekalian berkumpul di pagi hari ini untuk menunaikan shalat Idul Adha, sekaligus menghayati hikmah-himah yang terkandung di dalamnya.

اللهُ اَكْبَرْ٣× لَااِلٰهَ اِلَّا اللهُ وَاللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ

Peristiwa sejarah yang menandai hari raya Idul Adha adalah tugas berat yang dibebankan Allah SWT. kepada Nabi Ibrahim AS. agar beliau menyembelih putranya, Nabi Ismail AS.
Allah SWT berfirman:

رَبِّ هَبْ لِى مِنَ الصَّا لِحِيْنَ فَبَشِّرْنَاهُ بِغُلَامٍ حَلِيْمٍ فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعُى قَالَ يَابُنَىَّ اِنِّى اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّى اَذْ بَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰى قَالَ: يَااَبَتِ افْعَلْ مَاتُؤْمَرُ سَتَجِدُنِى اِنْ شَاءَ اللهُ مِنَ الصَّابِرِيْنَ فَلَمَّا اَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِيْنِ وَنَادَيْنَاهُ اَنْ يَّاۤاِبْرَاهِيْمُ قَدْصَدَّقْتَ الرُّؤْيَا اِنَّاكَذٰلِكَ نَجْزِى الْمُحْسِنِيْنَ اِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِيْنُ

Artinya:
“Ya Tuhanku, anugerahilah aku anak yang saleh. Kemudian Kami berikan kabar gembira kepadanya dengan seorang anak yang penyantun. Setelah anak itu dapat melakukan usaha bersamanya, Ibrahum berkata kepadanya: “Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi dalam tidurku, bahwa aku menyembelih engkau; maka pertimbangkanlah bagaimana pendapatmu?” Sang anak menjawab: “Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan itu, niscaya ayah akan mengetahui bahwa diriku termasuk orang-orang yang sabar, insya Allah”. Maka ketika keduanya telah mematuhi perintah Allah, dan pipi sang anak sudah ditempelkan di atas tanah; maka Kami berseru kepadanya: “Wahai Ibrahim, sesungguhnya engkau telah mematuhi perintah berdasarkan mimpi itu! Dan sesungguhnya dengan cara seperti itulah Kami membalas orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya peristiwa ini adalah suatu ujian yang nyata!”. (Ash-Shaffat: 100-106)

اللهُ اَكْبَرْ٣× لَااِلٰهَ اِلَّا اللهُ وَاللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ

Kaum Muslimin dan Muslimat yang kami muliakan!

Untuk menangkap hikmah-hikmah dari peristiwa Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail tersebut, kita dapat menelusurinya dari beberapa segi, yaitu:
Pertama: Dari segi jenis perintah
Kedua: Dari segi yang diperintah
Ketiga: Dari segi materi perintah

Penyembelihan Ismail
 
Mengenal jenis perintah, dapat kita ketahui bahwa perintah yang dibebankan oleh Allah SWT. kepada Nabi Ibrahim AS. sangat Irrational dan sangat tidak masuk akal. Betapa tidak, seorang diperintah untuk menyembelih putranya sendiri. Kalau kita mencoba menganalisanya secara rasional atau secara akal pikiran, kemungkinan kesimpulan kita akan meleset dari kebenaran. Bahkan kita akan menuduh bahwa ayat tersebut tidak masuk akal, sehingga kebenarannya perlu dipertimbangkan dan ditinjau kembali. Kesimpulan dari analisa kita tidak akan meleset, jika sebelumnya kita sudah menyetujui dan meyakini bahwa tidak selamanya perintah-perintah Allah itu rasional atau dapat masuk akal. Atau dengan lingkup pembahasan yang lebih luas, tidak selamanya aturan-aturan yang terdapat dalam agama Islam itu sesuai dengan akal pikiran. Banyak aturan-aturan ritual atau peribadatan dalam agama Islam yang tidak masuk akal, yang oleh para ‘Ulama disebut “ta’abbudiy” atau ibadah mahdlah atau ibadah murni, yaitu hal-hal yang mengatur hubungan antara manusia dengan Penciptanya (Khaliqnya). Sedang peraturan-peraturan yang bertalian dengan masalah sosial yang disebut dengan “ibadah ghairu mahdlah” atau ibadah yang tidak murni atau ibadah sosial adalah bersifat rasional atau sesuai dengan akal pikiran. Oleh karena itu akan meleset hasilnya, jika ibadah mahdlah seperti perintah Allah kepada Nabi Ibrahim untuk menyembelih putranya, Nabi Ismail di atas dianalisa dengan pendekatan rasional.

Kini timbul pertanyaan, yaitu: Kalau seluruh firman Allah itu tidak ada yang sunyi dan sepi dari faedah, maka apakah faedahnya Allah memerintahkan makhlukNya dengan perintah yang tidak masuk akal dan tidak dapat dipahami oleh makhluk itu sendiri? Di sinilah Allah mengakhiri kisah tersebut dengan berfirman:

اِنَّ هٰذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِيْنُ

Artinya:
“Sesungguhnya hal ini adalah merupakan ujian yang nyata”.

Yaitu ujian kepada Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, sampai keduanya mau melaksanakan perintah Allah. Meskipun perintah tersebut tidak dapat dipahami maksudnya.

اللهُ اَكْبَرْ٣× لَااِلٰهَ اِلَّا اللهُ وَاللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ

Kaum Muslimin dan Muslimat yang kami muliakan!

Mengenai segi yang diperintah, Apabila perintah Allah tersebut adalah merupakan batu ujian terhadap Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, maka pertanyaan yang mungkin timbul adalah: untuk apa Allah masih juga menguji Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail? Apakah keduanya mungkin lulus atau gagal dalam menghadapi ujian tersebut? Jawabannya ialah bahwa tentu kedua Nabi tersebut pasti lulus dalam menghadapi ujian, karena keduanya adalah orang-orang yang sudah dipilih oleh Allah! Akan tetapi, untuk apa kedua Nabi tersebut masih diuji? Di sinilah kita dapat menangkap hikmah yang agung dalam peristiwa tersebut.

Kalau Nabi pilihan Allah itu masih juga mendapat ujian hidup, maka kita sebagai makhluk biasa yang bukan pilihan ini, tentu lebih layak untuk mendapatkan ujian-ujian dari Allah SWT. Allah mungkin menguji makhlukNya dengan ujian yang pahit atau ujian yang manis, sebagaimana firman Allah yang berbunyi:

الَّذِىْ خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةُ لِنَبْلُوَكُمْ اَيُّكُمْ اَحْسَنُ عَمَلًا

Artinya:
“Allah menjadikan mati dan hidup, untuk menguji kamu siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya” (Al-Mulk: 2)

Dalam menghadapi ujian-ujian ini, kita sendirilah yang akan menjawabnya, apakah akan lulus atau gagal dalam menghadapi ujian-ujian dari Allah SWT. yang jelas, semakin teguh seseorang mengikuti ajaran-ajaran Allah dan RasulNya, semakin banyak kemungkinan ia sukses dalam menghadapi ujian. Dan semakin jauh seseorang dari ajaran-ajaran agama, semakin tipis pula kemungkinan untuk dapat sukses dalam menghadapi ujian dari Allah SWT.

Ketika ada sekelompok orang yang datang kepada Nabi dan menyatakan sebagai orang-orang mukmin, kemudia datang menimpa mereka ujian dari Allah yaitu mereka dihadang oleh orang-orang kafir yang ingin membunuh mereka, sehingga mereka merasa kesal sebab mereka sudah merasa sebagai orang-orang yang beriman, mengapa pula masih mendapat ujian hidup. Maka turunlah firman Allah:

الۤمّۤ اَحَسِبَ النَّاسُ اَنْ يُتْرَكُوْا اَنْ يَقُوْلُوا اٰمَنَّا وَهُمْ لَايُفْتَنُوْنْ وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللهُ الَّذِيْنَ صَدَقُوْا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكٰذِبِيْنَ

Artinya:
“Alif Laam Miim. Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan begitu saja mengatakan: “Kami sudah beriman” tanpa mendapat cobaan? Sesungguhnya Kami telah mencoba (menguji) orang-orang sebelum mereka agar Allah mengetahui, mana orang-orang yang benar-benar beriman dan mana orang-orang yang dusta”. (Al-Ankabut: 1-3)

اللهُ اَكْبَرْ٣× لَااِلٰهَ اِلَّا اللهُ وَاللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ

Kaum Muslimin dan Muslimat yang kami muliakan!

Mengenai segi materi perintah, yang dalam peristiwa Nabi Ibrahim AS. adalah benda yang harus dikorbankan yang berupa putra kesayangannya beliau. Banyak ayat Al-Qur’an yang menyebutkan kata “anak” bersama dengan kata “harta benda”, karena keduanya memang merupakan lambang keduniaan. Dalam Al-Qur’an Allah SWT. berfirman:

اَلْمَالُ وَالْبَنُوْنَ زَيْنَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرُعِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرُاَمَلًا

Artinya:
“Harta benda dan anak-anak adalah perhiasan hidup di dunia dan amal-amal yang kekal lagi baik, lebih baik pahalanya di sini Tuhanmu dan lebih baik untuk dicita-citakan”. (Al-Kahfi: 46)

Disamping itu, harta benda dan anak-anak juga merupakan lambang kesenangan di dunia yang sangat digandrungi oleh setiap orang. Padahal pada hakikatnya, harta benda dan anak-anak itu adalah alat yang dipergunakan oleh Allah SWT. untuk menguji dan mencoba manusia, sebagaimana firman Allah:

اِعْلَمُوْا اَمْوَالَكُمْ وَاَوْلَادُ كُمْ فِتْنَةٌ وَاَنَّ اللهَ عِنْدَهُ اَجْرٌعَظِيْمٌ

Artinya:
“Ketahuilah, bahwa harta benda dan anak-anakmu adalah merupakan ujian bagi kamu. Sedangkan sesungguhnya di sisi Allah ada pahala yang besar”. (Al-Anfal: 28)

Karena setiap orang cenderung untuk menuruti apa saja dan siapa saja yang disenangi, maka perintah Allah kepada Nabi Ibrahim AS. untuk menyembelih putranya adalah memberi peringatan kepada setiap orang, bahwa untuk mencapai kebahagiaan yang sejati, setiap orang dituntut untuk berani mengorbankan, memenggal dan memotong kesenangan dan kegandrungan hatinya terhadap hal-hal yang merupakan simbol-simbol duniawi. Sebab selagi seseorang manusia masih menggandrungi hal-hal tersebut, maka selama itu pula dia akan diperbudak olehnya. Dan akan lebih parah lagi akibatnya, jika dia berani mencoba melakukan apa saja tanpa mengenal batas-batas dan ketentuan-ketentuan agama, demi menuruti kesenangan dan kegandrungan hatinya. Di sinilah sebenarnya titik awal dan permulaan kebinasaan dan kehancuran manusia, sebagaimana sabda Nabi Besar Muhammad SAW:

حُبُّ الدُّنْيَا رَأْسُ كُلِّ خَطِيْئَةٍ

Artinya:
“Menggandrungi dunia adalah pangkal segala kejahatan”.

Bukankah segala macam bentuk kejahatan di dunia ini, seperti penipuan, korupsi, suap atau rasywah atau kolusi, pencurian, perampokan, pembunuhan, pemberontakan dan lain sebagainya adalah berpangkal dari keinginan manusia untuk menuruti kesenangan hatinya terhadap hal-hal bersifat duniawi. Oleh karena itu kita diperintahkan untuk berani mematahkan dan mengorbankan sebagian dari kesenangan hati kita, untuk dapat mencapai peringkat manusia yang baik, sebagaimana firman Allah:

لَنْ تَنَا لُوْاالْبِرَّ حَتّٰى تُنْفِقُوْا مِمَّا تُحِبُّوْنَ

Artinya:
“Kamu sekalian tidak akan pernah mencapai kebaikan, sehingga kamu berani mendermakan sebagian dari harta yang kamu cintai”. (Ali Imran: 92)

Memberikan sesuatu barang yang tidak disukai kepada orang lain, dapat dilakukan oleh setiap orang. Akan tetapi memberikan barang yang sedang dan masih disukai atau disenangi kepada orang lain, hanya dapat dilakukan oleh orang yang baik saja. Oleh karena itu, untuk menguji sampai di mana rasa sayang kita kepada harta benda, dalam kesempatan Idul Adha ini Rasulullah SAW. bersabda:

مَنْ كَانَ لَهٗ سَعَةٌ فَلَمْ يُضَحِّ فَلَا يَقْرَبَنَّ مُصَلَّانَا

Artinya:
“Barangsiapa yang mempunyai kecukupan dan tidak mau menyembelih binatang qurban, maka dia tidak usah shalat Eid bersama saya”.

Kini tinggal kita sendiri yang mampu mengalahkan kesenangan-kesenangan hawa nafsu kita, ataukah kita masih diperbudak olehnya.

اللهُ اَكْبَرْ٣× لَااِلٰهَ اِلَّا اللهُ وَاللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ

Kaum Muslimin dan Muslimat yang kami muliakan!

Untuk menuju kesempurnaan hidup, manusia harus mampu memahami keberadaannya di dunia ini, dan sekaligus mengetahui fungsi dan kegunaan segala hal yang bersifat duniawi.
Mengenai keberadaan manusia di dunia, dilukiskan oleh Rasulullah SAW. sebagai orang yang berteduh sebentar di bawah pohon yang kemudian pergi lagi atau seperti orang yang menyebrang jalan. Jadi kehidupan di dunia ini bukanlah suatu tujuan, melainkan sekedar keharusan yang mesti dilalui dan bersifat sangat sementara. Sedang dunia itu sendiri, dilukiskan oleh Rasulullah SAW. sebagai air yang menempel di telunjuk jari yang baru dicelupkan ke dalam lautan. Air yang menempel di telunjuk jari dibanding air lautan, tak ubahnya seperti dunia dibanding akhirat. Namun demikian, tidak sedikit orang yang silau melihat dunia dan memandang sepele kepada akhirat.

Masalahnya, karena manusia lebih cepat terpikat kepada apa saja yang segera dirasakan, yaitu dunia dan isinya. Sedang manusia kurang tertarik kepada kehidupan akhirat, karena tidak segera dapat dinikmati. Padahal kepuasan menikmati kehidupan dunia ini hanyalah bersifat sementara dan semu, sedang kepuasan menikmati kehidupan akhirat nanti adalah abadi dan hakiki. Namun manusia ditakdirkan oleh Allah SWT. hanya mampu merasakan hal-hal yang berada di lingkungannya saja tanpa dapat merasakan hal-hal yang jauh dari dirinya.
Dalam Al-Qur’an Allah SWT. menggambarkan kehidupan dunia dan akhirat sebagai berikut:

اِعْلَمُوْا اَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِيْنَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِى الْاَمْوَالِ وَالْاَوْلَادِ كَمَثَلِ غَيْثِ اَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَتَهٗ ثُمَّ يَهِيْجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُوْنُ حُطَامًا وَفِى الْاٰخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيْدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللهِ وَرِضْوَانٌ وَمَاالْحَيَاةُ الدُّنْيَا اِلَّامَتَاعُ الْغرُوْرِ

Artinya:
“Ketahuilah! Bahwa sesungguhnya kehidupan di dunia ini hanyalah permainan, iseng-iseng, perhiasan dan saling merasa hebat di antara kamu. Serta persaingan dalam berbanyak harta dan anak. Tak ubahnya seperti air hujan yang menyiram tanaman yang pertumbuhannya dikagumi oleh orang-orang yang menanamnya. Tanaman itu lalu kering, dan kemudian kamu lihat tanaman itu menguning dan hancur. Sedang di akhirat terdapat siksa yang pedih (bagi orang-orang yang kafir) serta ampunan dan keridhoan Allah (bagi orang-orang yang mukmin). Dan kehidupan dunia tidak lebih dari kesenangan yang menipu. (Al-Hadid: 20)

Sebagai orang mukmin yang sudah mempunyai pegangan Al-Qur’an, seyogyanya kita tidak tertipu oleh kehidupan di dunia. Bahkan sebaliknya, kehidupan dunia ini harus kita upayakan dengan sungguh-sungguh agar dapat menjadi faktor penentu dalam memperoleh kehidupan akhirat yang abadi. Islam tidak membenci harta benda, tetapi Islam membenci orang yang menjadikan dirinya menjadi budak harta benda. Islam tidak membenci kekayaan tersebut untuk masalah-masalah yang tidak halal. Pola hidup zuhud (sederhana) yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW. tidaklah identik dengan hidup sengsara, karena permasalahannya menyangkut moralitas dan tanggapan seseorang terhadap dunia ini. Tidak jarang orang miskin yang gandrung dengan kehidupan duniawi, dan tidak sedikit pula orang kaya yang lebih mementingkan kehidupan akhirat. Seseorang manusia baru mencapai kesempurnaan hidup, apabila dia telah mampu memberikan penilaian bahwa kehidupan ukhrawi itu lebih baik dari pada kehidupan duniawi. Allah SWT. berfirman:

وَلَلْاٰ خِرَةُ خَيْرٌلَكَ مِنَ الْاُوْلٰى

Artinya:
“Kehidupan ukhrawi itu lebih baik bagimu dari pada kehidupan duniawi”. (Adh-Dhuha: 4)

Untuk dapat memberikan penilaian yang tepat mengenai arti dunia dan arti akhirat, seseorang terlebih dahulu harus memahami arti keberadaannya di dunia ini dan tentang fungsi dari dunia itu sendiri. Pekerjaan ini memang berat, karena merupakan upaya untuk mencari identitas manusia di dunia ini, apalagi jika pekerjaan ini hanya didukung oleh akal fikiran yang sangat terbatas kemampuannya.

Jadi, peristiwa Nabi Ibrahim AS. yang kita peringati hari ini adalah mengandung pelajaran yang luhur, yang menuntut setiap orang agar mau melumpuhkan kegandrungannta kepada segala hal yang bersifat duniawi. Dan dengan demikian dia akan menjadi insan kamil (manusia sempurna) karena sudah dapat melepaskan dirinya dari belenggu perbudakan yang dilakukan oleh hawa nafsu.

Sedangkan hal ini akan membawa dampak moralitas, di mana manusia tidak lagi rakus dan kejam terhadap sesama manusia dalam mengejar kebahagiaan semua yang sementara, karena dia akan menggunakan segala yang dimilikinya sebagai sarana untuk mencapai kebahagiaan akhirat yang hakiki dan abadi.

وَاِذَاقُرِئَ الْقُرْاٰنُ فَاسْتَمِعُوْا لَهٗ وَاَنْصِتُوْا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنْ اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ اِنَّاۤ اَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ اِنَّ شَانِئَكَ هُوَالْاَبْتَرُ بَارَكَ اللهُ لِى لَكُمْ فِى الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمْ وَنَفَعَنِىْ وَاِيَا كُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْاٰيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّىْ وَمِنْكُمْ تِلَاَوَتَهٗ اِنَّهُ هُوَالسَّمِيْعِ الْعَلِيْمُ وَجَعَلَنِىْ وَاِيَاكُمْ فِىْ زُمْرَةِ عِبَادِهِ الصَّالِحِيْنَ
اَقُوْلُ قَوْلِىْ هٰذَا وَاَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِىْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ فَيَا فَوْزَالْمُسْتَغْفِرِيْنَ وَيَاخَبَاةَ التَّائِبِيْنَ
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَ كَا تُه