Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Khutbah Idul Fitri: Kembali Fitri

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
اللهُ اَكْبَرُ×٩ اللهُ اُكْبَركَبِيْرَا وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرَا وَصُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَاَصِيْلَا اللهُ اَكْبَر مَااَشْرَقَتْ فِى صَبَاحِ هٰذَا الْيَوْمِ شَمْسَ الْمَسَرَّةِ وَتَمَّ شَهْرُ الصَّوْمِ وَاسْعَدَّ وَفْدُالْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ وَلَبِسَ الْمُؤْمِنُيْنَ جَدِيْدَ الثِّيَابِ اِظْهَارًالِجَمِيْلِ الْاَنْعَامِ سُبْحَانَ مَنْ سَبَّحَ الرَّعْدُ بِحَمْدِهِ وَالْمَلَائِكَةُ مِنْ خِيْفَتِهٖ سُبْحَانَ مَنْ خَلَقَ الْخَلَاِئقَ بِبَاهِرِ قُدْرَتِهٖ سُبْحَانَ مَنْ اَوْجَبَ الْفِطْرِ فِى هٰذَا الْيَوْمِ وَحَرَّمَ الصِّيَامَ سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
الْحَمْدُ لِلّٰهِ مُقَدِّرِ الْاَيَّامِ وَاللَّيَالِىْ اَحْمَدُهُ وَاَشْكُرُهٗ عَلٰى جَمِيْلِ الْاِفْضَالِ وَاَتُوْبُ اِلَيْهِ وَاَسْتَغْفِرُهُ مِنَ الذُّنُوْبِ وَالْاۤثَامِ وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهٗ وَرَسُوْلُهُ خَيْرُ نَبِىٍّ اَرْسَلَهٗ اَللّٰهُمَّ صَلِّى وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِهٖ وَصَحْبِهِ الْبَرَةِ الْكِرَامِ
اَمَّابَعْدُ: فَيَا عِبَادَ الله اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِى بِتَقْوَى اللهِ وَطَا عَتَهٖ فَاتَّقُوْهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ وَاَطِيْعُوْهُ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهَ قَدْفَرَضَ عَلَيْكُمْ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وِالرَّفَثِ حَسْبَ السُّنَّةِ الْمَأْثُوْرَةِ وَجَعَلَهَا اَسَاسًا مِنْ اُسُسِ الْفَلَاحِ حَتّٰى لَا سَبِيْلَ لِلْفَلَاحِ اِلَّا بِهَا فَقَالَ تَعَالٰى: قَدْ اَفْلَحَ مَنْ تَزَكّٰى وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهٖ فَصَلّٰى بَلْ تُؤْثِرُوْنَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَالْاٰخِرَةُ خَيْرٌ وَّاَبْقٰى اِنَّ هٰذَا لَفِى الصُّحُفِ الْاُوْلٰى صُحُفِ اِبْرَاهِيْمَ وَمُوْسٰى وَقَالَ تَعَالٰى: قَدْاَفْلَحَ الْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ هُمْ فِى صَلَاتِهِمْ خَاشِعُوْنَ وَالَّذِيْنَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِمُعْرِضُوْنَ وَالَّذِيْنَ هُمْ لِلزَّكَاةِ فَاعِلُوْنَ


Allahu Akbar 3x
Kaum Muslimin dan Muslimat yang berbahagia!
Pada hari ini kita telah selesai menjalankan kewajiban yang telah diwajibkan oleh Allah swt. kepada kita sekalian, yaitu berpuasa Ramadlan selama satu bulan lamanya. Dan pada pagi hari ini kita sekalian bersama-sama berhari raya sebagai luapan rasa syukur dan terima kasih kita kepada Allah swt. yang telah memberikan petunjuk, bimbingan, pertolongan dan bantuan yang telah diberikan kepada kita sekalian. Sebab tanpa petunjuk, bimbingan, pertolongan dan bantuan tersebut, tidak mungkin kita dapat melaksanakan ibadah puasa. Buktinya ialah bahwa banyak diantara orang-orang yang telah mengaku beriman, ternyata masih belum mampu menjalankan ibadah puasa. Bahkan tadi malam, semalam suntuk kita telah menyatakan rasa ter ima kasih kita kepada Allah swt. Dengan mengumandangkan suara takbir, tahlil dan tahmid.

Saudara-saudari kaum Muslimin dan Muslimat yang berbahagia!
Setelah kita selesai menjalankan ibadah puasa pada bulan Ramadlan, tepatnya pada malam tanggal 1 Syawwal, agama Islam memerintahkan untuk mengeluarkan zakat fithrah kepada setiap orang yang memiliki kelebihan bahan makanan untuk dirinya sendiri dan untuk semua orang yang menjadi tanggungannya untuk dimakan pada malam hari raya dan siang harinya. Sehingga apabila ada orang yang pada waktu setelah maghrib pada malam hari raya, tidak memiliki kelebihan bahan makanan untuk dirinya sendiri beserta seluruh anggota keluarga yang menjadi tanggungannya, maka dia tidak diwajibkan membayar zakat fitrah. Akan tetapi manakala sesudah itu dia mendapatkan rizki yang lebih untuk dimakan sendiri beserta seluruh anggota keluarga yang menjadi tanggungannya, maka pada saat itu dia berkewajiban mengeluarkan zakat fitrah. Inilah keunikan zakat fitrah.

Sehingga karenanya, maka sejak Rasulullah saw. sampai masa sebelum fikiran orang- orang muslim dipengaruhi oleh fikiran-fikiran yang berasal dari luar Islam, zakat fitrah ini tidak pernah diatur dan diurus oleh Badan Amil Zakat atau Panitia Zakat Fitrah.
Adapun tujuan zakat fitrah, Rasulullah saw, sendiri telah menjelaskan dalam salah satu haditsnya sebagai berikut:

فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ، وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ فَمَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلَاةِ فَهِيَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلَاةِ فَهِيَ صَدَقَةٌ مِنَ الصَّدَقَاتِ

Artinya: Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra. katanya: "Rasulullah saw. telah mewajibkan zakat fitrah untuk membersihkan bagi orang yang berpuasa dari hal yang tidak berguna dan yang keji dan untuk memberi makan kepada orang-orang miskin. Barangsiapa yang menunaikan zakat fitrah sebelum shalat Id, maka zakat fitrah tersebut adalah zakat yang diterima. Dan barangsiapa yang menunaikannya sesudah shalat Id, maka zakat fitrah tersebut menjadi seperti sedekah-sedekah yang lain" (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah).

Dari hadits di atas kita dapat mengambil beberapa pengertian, yaitu:
  1. Bahwa zakat fitrah itu berfungsi sebagai penebus segala amal perbuatan atau ucapan yang dilakukan oleh orang yang berpuasa yang dapat membatalkan pahala dari puasanya, baik perbuatan atau ucapan yang dosa ataupun yang sia-sia.
  2. Bahwa di antara tujuan berpuasa itu ialah agar orang yang sedang berpuasa itu dapat merasakan betapa pedih perut yang sedang kelaparan, meskipun dia telah menyiapkan makanan untuk berbuka di malam hari, dan betapa panas tenggorokan yang sedang kehausan meskipun dia telah menyiapkan berbagai macam minuman untuk berbuka. Dari lapar dan haus yang dialami oleh orang yang berpuasa tersebut diharapkan akan timbul perasaan iba, belas dan kasihan terhadap fakir dan miskin yang hampir setiap hari selalu berpuasa tanpa memiliki sesuatu yang dapat dipergunakan untuk berbuka karena keadaannya yang papa; kemudian dia dapat membayangkan betapa kegembiraan si fakir dan si miskin yang papa menerima uluran dan santunan dari mereka yang mempunyai kelebihan, sebagaimana kegembiraannya sewaktu dapat meneguk minuman dan menyuap makanan waktu berbuka puasa. Oleh karena itu. dari orang-orang mu' min yang berpuasa dan dianugerahi kelebihan rizki oleh Allah swt. di malam hari raya diharuskan dan diwajibkan mengeluarkan zakat fitrah dan memberikannya kepada si fakir dan si miskin agar hati mereka di hari raya ini tidak lagi merasa sedih dan pilu. Berikanlah hak mereka, biarkanlah mereka menerima hak mereka lebih dari sekedar untuk dimasak habis sehari semalam saja. Janganlah sampai tangan-tangan kotor yang mengatas narmakan dirinya sebagai ami, sebagai sabililash atau lainnya berusaha untuk merampas hak fakir miskin ini. Janganlah hak fakir miskin ini dirampas dengan dalih untuk pembangunan masjid, madrasah dan lainnya; karena pembangunan masjid, madrasah dan lain sebagainya itu adalah kewajiban orang orang yang kaya dan bukan kewajiban fakir miskin.
  3. Bahwa pembagian zakat fitrah itu dikecualikan dari pembagian zakat-zakat lainnya. Jika selain zakat fitrah pembagiannya telah diatur oleh surat At Taubah ayat 60, yaitu diberikan kepada delapan asnaf, maka zakat fitrah ini dikhususkan untuk orang-orang miskin (termasuk orang fakir). Karena disamping keunikannya sebagaimana yang telah kami kemukakan di atas yang menyebabkan tidak mungkin ada satu Panitia atau satu Badan Amil Zakat pun yang mampu mengurus zakat fitrah ini dengan secara sempurna, juga disebabkan waktu menyerahkan zakat fitrah kepada orang-orang yang berhak menerimanya dibatasi sampai sebelum pelaksanaan shalat Id untuk waktunya yang utama dan waktunya yang jawaz diperpanjang sampai matahari tanggal 1 Syawwal tenggelam saja.

اللهُ اَكْبَرُ×٣ لَااِلٰهَ اِللهُ وَاللهُ اَكْبَرُاللهُ اَكْبَرُوَلِلّٰهِ الحَمْدُ

Kaum Muslimin dan Muslimat yang berbahagia!
Dengan berpuasa yang telah diwajibkan oleh Allah swt. Selama satu bulan Ramadlan kepada semua orang yang telah mengaku beriman, antara lain dimaksudkan oleh Allah swt, agar setiap orang yang telah beriman seperti yang dikehendaki oleh agama Islam, memilki kepedulian sosial yang tinggi. Setiap orang mu'min tidak hanya dituntut untuk membenkan zakat ftrahnya saja, melainkan juga zakat zakat yang lain, baik zakat yang wajib maupun zakat yang sunnat atau sedekah (shadaqah) kepada mereka yang berhak menerimanya. Bahkan pada setiap harta yang diberikan oleh Allah swt., pada harta tersebut ada sebagian yang menjadi hak dari orang-orang yang meminta-minta dan hak dari orang-orang miskin yang tidak meminta-minta. Dalam Al Qur'an Allah swt, telah berfirman sebagai berikut:

وَفِيْ اَمْوَالِهِمْ حَقٌّ لِلسَّاۤىِٕلِ وَالْمَحْرُوْمِ

Artinya: Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian (karena tidak meminta). (Adr-Dzariyat : 19).

Jadi rizki dari orang-orang yang fakir dan orang-orang yang miskin itu oleh Allah swt. dititipkan kepada orang-orang yang kaya. Dalam salah satu hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Imam Ahmad dan Imam Abu Dawud dari Abu Sa'id Al Khudri, Rasulullah saw. pernah bersabda sebagai berikut:

مَنْ كَانَ عِنْدَهُ فَضْلُ ظَهْرٍ فَلْيَعُدْ بِهٖ عَلٰى مَنْ لَا ظَهْرَلَهُ وَمَنْ كَانَ عِنْدَهُ فَضْلُ زَادٍ فَلْيَعُدْ بِهٖ عَلٰى مَنْ لَا زَادَ لَهُ قَالَ اَبُو سَعِيْدٍ (رَاوِى الحَدِ يْثِ)
فَذَ كَرَ رَسُولُ اللهِ صَلّٰى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ مِنْ اَصْنَاَفِ الْمَالِ ماَ ذَكَرَ حَتّٰى رَاَيْنَا اَنَّهُ لَا حَقَّ لِاَحَدٍ مِنَّا مِنَ الْفَضْلِ (رواه مسلم واحد وابو داود)
Artinya: Barangsiapa yang mempunyai kelebihan punggung (dari binatang menjadi kendaraannya), maka hendaklah dia memberkannya kepada orang yang sama sekali tidak bisa mendapatkan kendaraan. Dan barangsiapa yang mempunyai  elebihan bekal, maka hendaklah dia memberikannya kepada orang yang sama sekali tidak mempunyai bekal. Berkata Abu Sa'id (perawi hadits) : "Kemudian Rasulullah saw. menuturkan jenis-jenis harta, apa yang telah beliau tuturkan, sehingga kami (para sahabat) berpendapat bahwa sesungguhnya sama sekali tidak ada hak pakai bagi salah seorang dari kami terhadap kelebihan" (HR. Muslim, Ahmad dan Abu Dawud).

Dari hadits tersebut, maka agama Islam membagi hak terhadap harta menjadi dua, yaitu : "hak milik" dan "hak pakai".

Agama Islam mengakui hak milik bagi setiap individu (perorangan) yang tidak boleh diganggu gugat oleh siapapun. Artinya jika ada seseorang mendapat rizqi berupa uang sebanyak Rp. 1.000.000,- (satu juta rupiah), maka agama Islam mengakui bahwa uang sebanyak satu juta tersebut adalah hak milik pribadi dan orang tersebut. Siapa saja tidak diidzinkan oleh agama Islam untuk mengganggu gugat dan merampas uang tersebut. Akan tetapi mengenai hak pakai, agama Islam mengaturnya dengan aturan yang pasti dan tegas. Untuk itu agama Islam membagi kebutuhan manusia kedalam tiga kategori:
1. Kebutuhan yang bersifat darurat,
2. Kebutuhan yang bersifat hajat, dan
3. Kebutuhan yang bersifat kesempurnaan.

Untuk memenuhi kebutuhan yang bersifat darurat, dalam hal makan adalah beras misalnya, maka orang yang memiliki uang saku juga tersebut di atas, apabila dia ingin memakainya untuk membeli beras guna mencukupi kebutuhan diri dan keluarganya, agama melindunginya dan melarang siapa saja untuk mengganggu gugat orang tersebut. Akan tetapi pada saat orang tersebut ingin memakai kelebihan uangnya sendiri untuk memenuhi kebutuhannya yang bersifat hajat yang dalam hal makan adalah lauk pauk misalnya, maka agama Islam melarang selama masih ada orang lain, baik famili atau tetangganya yang masih tidak mampu membeli beras. Dia wajib memberikan kelebihan uangnya kepada mereka yang belum mampu memenuhi kebutuhannya yang bersifat darurat dengan cara disedekahkan, atau dipinjamkan, atau ongkos kerja, sesuai dengan situasi, kondisi dan domisili.

Jika semua famili dan kerabatnya serta tetangganya dalam radius empat puluh rumah sudah mampu memenuhi kebutuhan mereka yang bersifat darurat, maka barulah orang yang memiliki kelebihan uang dari kebutuhannya sendiri yang bersifat darurat diperbolehkan oleh agama Islam untuk membelanjakan kelebihan uangnya untuk memenuhi kebutuhannya sendiri yang bersifat hajat, yang dalam hal makan adalah lauk pauk yang sederhana. Akan tetapi jika orang yang mempunyai kelebihan uang dari kebutuhannya sendiri yang bersifat hajat ingin memakai kelebihan uangnya untuk memenuhi kebutuhannya yang bersifat kesempurnaan yang dalam hal makan adalah beras dan lauk-pauk yang lebih dari sederhana, maka agama Islam melarangnya selama masih ada famili dan kerabat serta tetangganya dalam radius empat puluh rumah masih ada yang belum mampu memenuhi kebutuhan mereka yang bersifat hajat. Meskipun agama Islam tetap mengakui kelebihan uang tersebut sebagai hak miliknya, namun hak pakai dari kelebihan uang tersebut ada pada orang lain; sehingga agama Islam mewajibkan kepada orang yang memiliki kelebihan uang untuk memberikan kepada mereka yang mempunyai hak pakai dengan jalan disedekahkan, atau dipinjamkan, atau sebagai ongkos kerja, sesuai dengan perjanjian dari kedua belah pihak. Dan baru agama Islam memperbolehkan orang yang mempunyai kelebihan uang dari kebutuhannya sendiri yang bersifat hajat memakai kelebihan uang tersebut untuk memenuhi kebutuhannya yang bersifat kesempurnaan, manakala seluruh famili dan kerabatnya serta tetangganya dalam radius empat puluh rumah telah mampu memenuhi kebutuhan mereka yang bersifat hajat.

Jadi agama Islam tidak menghendaki ada perbedaan yang menyolok antara si kaya dan si miskin, baik dalam hal makanan, pakaian dan tempat tinggal atau rumah. Orang-orang yang kay a tidak akan dapat melepaskan tanggung jawab mereka di hadapan Allah swt. di hari kiamat kelak terhadap pencopetan, pencurian dan perampokan yang terpaksa dilakukan oleh orang-orang miskin yang tidak mampu memenuhi kebutuhan mereka yang bersifat darurat. Si konglomerat pasti akan
diseret ke neraka akibat perbuatan maksiat yang dilakukan oleh orang-orang yang bodoh terhadap pengetahuan agama, karena tidak pernah mempunyai kesempatan yang cukup untuk mempelajari agama mereka sendiri. Dan para pejabat pemerintah, mulai dari tingkat pusat sampai ke tingkat daerah tidak akan dapat membebaskan diri mereka dari tuntutan Allah swt. di padang mahsyar kelak terhadap ketimpangan sosial ekonomi masyarakat yang berada di bawah kekuasaan mereka, akibat sikap mereka yang tidak adil dalam menjalankan roda pemerintahan yang ada pada tangan dan kekuasaan mereka.

اللهُ اَكْبَرُ×٣ لَااِلٰهَ اِللهُ وَاللهُ اَكْبَرُاللهُ اَكْبَرُوَلِلّٰهِ الحَمْدُ

Saudara-saudara kaum Muslimin dan Muslimat yang berbahagia!
Pantaskah orang-orang Islam yang kaya yang bersenang-senang dengan kekayaan mereka masih mengaku beriman dan taat menjalankan agama Islam manakala di sekitar tempat tinggal mereka masih banyak orang-orang miskin lagi papa yang selalu mengalami kesulitan dalam mencari sesuap nasi pengisi perut mereka? Pantaskah para konglomerat yang berfoya-foya dalam memenuhi fasilitas hidupnya yang serba mewah dan berkelebihan masih mengaku ber-Pancasila manakala masyarakat di negara Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan sudah 50 tahun merdeka ini masih banyak yang terlantar pendidikan agama dan pendidikan umumnya serta kesulitan untuk mendapatkan lapangan kerja? Pantaskah para pejabat yang bertugas untuk menyelenggarakan pemerintahan masih mengaku sebagai Pengaman dan Pengamal Pancasila manakala mereka membiarkan KOLUSI tambah merajalela di kantor-kantor Pemerintahan sehingga sudah menjadi rahasia umum dan bahkan mereka ikut bergelimang serta berperan aktif dalam menyuburkan kolusi tersebut untuk memperkaya diri mereka sendiri, sementara masih banyak rakyat yang menjerit kelaparan dan terpaksa menjual agama mereka dengan sesuap makanan yang dapat dimasukkan ke mulut mereka?

اللهُ اَكْبَرُ×٣ لَااِلٰهَ اِللهُ وَاللهُ اَكْبَرُاللهُ اَكْبَرُوَلِلّٰهِ الحَمْدُ

Saudara-saudari kaum Muslimin dan Muslimat yang berbahagia!
Kewajiban yang diperintahkan oleh Allah swt. Untuk mengeluarkan zakat fitrah setelah kita menjalankan puasa Ramadlan ini, semoga dapat menyadarkan kita sekalian akan tanggung jawab kita sebagai makhluk sosial atau sebagai anggota masyarakat disamping sebagai hamba Allah swt. yang selalu berusaha untuk meningkatkan kwalitas iman dan taqwa kita, agar kita sekalian tidak dicoret dari daftar ummat Islam, yaitu ummat Nabi Muhammad saw. yang menyebabkan iman kita hilang sewaktu ajal atau maut menjemput kita, alias su'ul khaattimah. Dan marilah selalu kita ingat sabda Nabi Muhammad saw. yang berbunyi:

مَااٰمَنَ رَجُلٌ بَاتَ سَبْعَانَ وَجَائِعٌ اِلَى جَنَابِهِ وَهُوَيَعْلَمُ

Artinya: Tidaklah beriman dengan baik orang yang bermalam dengan perut kenyang, padahal tetangganya berbaring dalam keadaan lapar. sedang ia mengetahui keadaan tetangganya itu.

Akhirnya marilah kita memohon kepada Allah swt, semoga Allah swt. berkenan untuk mema'afkan segala kekurangan, kekhilafan dan kesalahan kita sekalian; dan semoga Allah swt, berkenan memberikan petunjuk dan pertolongan-Nya kepada kita sekalian, kepada orang-orang kaya, kepada para konglomerat dan kepada para pejabat penyelenggara negara ke jalan yang benar dan diridlai-Nya, sehingga kita sekalian termasuk golongan orang-orang yang kembali kepada fitrah kita masing-masing, menjadi orang-orang yang mendapatkan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat dan menjadi orang-orang yang diterima amal ibadahnya.

وَاِذَا قُرِئَ الْقُرْاٰنَ فَاسْتَمِعُوْا لَهٗ وَاَنْصِتُوْا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ: يَاۤ اَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا التَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهٖ وَلَا تَمُوْ تُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ بَارَكَ اللهُ لِى وَلَكُمْ فِى الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِى وَاِيَّا كُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْاٰيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّى وَمِنْكُمْ تِلَا وَتَهٗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعِ الْعَلِيْمُ وَجَعَلَنِىْ وَاِيَّاكُمْ مِنَ الْعَائِدِيْنَ الْفَا ئِزِيْنَ الْمَقْبُوْلِيْنَ الْمَغْفُوْرِيْنَ الْمُرْزُوْقِيْنَ وَادْخَلَنِىْ وَاِيَّاكُمْ فِى زُمْرَةِ عِبَادِهِ الْمُؤْمِنِيْنَ الْعَامِلِيْنَ الصَّالِحِيْنَ الْمُتَّقِيْنَ اَقُوْلُ قَوْلِى هٰذَا وَاَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِىْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ فَيَا فَوْزَ الْمُسْتَغْفِرِ يْنَ وَيَا نَجَاةَ التَّائِبِيْنَ